Sunday, November 23, 2014

// // tinggalkan komentar

13 Geist Chapter 00

Bagikan:

 Chapter 00 : prolog , awal dari segalanya


Malam yang larut, seorang anak laki-laki berlari menyelesuri hutan setelah melihat merah cahaya berkobar dari desa tempat tinggalnya. Berlari di tengah kegelapan malam, tanpa henti dia terus berlari menuju desanya. Kekhawatiran terlihat jelas pada wajahnya yang panik melihat cahaya merah yang semakin jelas saat dia mendekati desanya.

Guaaarrr

Suara ledakan dari gedung disertai dengan kobaran api yang menyebar keseluruh desa. Dia sampai dan melihat keadaan desanya yang terbakar. Rumah dan pohon di sekitar desa dimakan oleh kobaran api yang ganas terus menjalar ke seluruh desa.

“Hah... apa yang sudah terjadi di sini?”



Masih teringat di benaknya, keadaan desa yang aman dan tentram beberapa jam sebelumnya. Saat dia dan temannya masih berlatih dan bermain bersama.




“Haaaa...!!!”

Langkah seorang anak kecil yang berlari dengan semangatnya menuju orang yang ada di depannya. Dia berlari untuk menjatuhkan seorang gadis kecil yang menjadi lawan tandingnya siang itu.

Saat sang anak laki-laki mulai mendekat, gadis kecil itu langsung menarik baju yang ada di leher anak laki-laki tersebut, lalu dia memutar dirinya dan mengambil posisi kuda-kuda dan langsung membanting anak laki-laki itu ke lantai.

Brakk

Suara hempasan pada lantai terdengar di iringi oleh sorak sorai beberapa anak yang ada di ruangan tersebut. Sang anak laki-laki kalah dari sang anak perempuan dalam pelatihan tersebut.

“Sial! Sudah yang keberapa kali aku kalah?”

“Kau tak apa kan,Ryo?” tanya gadis itu.

“Hah..aku tak apa. Kau hebat sekali Rine, lagi-lagi aku tak bisa mengalahkanmu.”

Rine hanya tersenyum mendengar perkataan Ryo, lalu dari belakang datang seorang kakek yang menjadi instruktur mereka. kakek itu melihat keadaan Ryo yang terlempar ke lantai.

“Bukankah aku bilang untuk mempertahankan auramu? Aura itu sangat berguna bukan hanya untuk menyerang tapi juga untuk melindungi tubuhmu.”

“Hehehe...sepertinya itu lebih sulit dari yang di bayangkan, kek.”

“Ya, sudah! Latih lagi kemampuanmu. Baiklah, pelajaran hari ini selesai dan kalian boleh untuk pulang sekarang.”

Ucap kakek itu kepada seluruh murid yang ada di ruangan tersebut. Sontak seluruh anak-anak itu berlarian keluar ruangan namun beberapa tetap tinggal di ruangan itu. Sang kakek juga keluar ruangan menuju rumah yang ada di sebelah tempat latihan itu. Tak lama Rine juga mengikuti sang kakek menuju rumah tersebut.

“Maaf, aku akan menyiapkan makan malam untuk kakek jadi kalian pergi saja sendiri.” Ucap Rine.

“Baiklah, aku, Andreas dan Karma akan pergi ke sungai untuk memancing, kalau sempat kau datang saja,” ucap Ryo.

“Kalau begitu, sampai jumpa!” Rine pun pergi meninggalkan Ryo dan beberapa anak lainnya di ruangan itu.

“Ryo,  mau sampai kapan kau berdiri di situ. Ayo pergi!!”

Kedua anak yang ada di dalam ruangan itu berjalan keluar dan Ryo bergegas mengikuti mereka. mereka berjalan di jalan kota  menuju sungai yang ada di ujung desa untuk memancing ikan. Alat pancing juga sudah mereka siapkan sebelumnya di luar tempat latihan.

“Hei, Andreas, Karma tunggu! Tubuhku masih sakit sekarang jadi pelan saja jalannya.”

“Salahmu sendiri, bagaimana bisa kau di banting seperti itu oleh Rine.”

“Sudahlah Andreas, bukan salah Ryo jika dia gagal mempertahankan aura-nya sampai dia kalah seperti itu.

“Hei kalian bicara seolah kalian tak pernah di banting seperti itu oleh Rine.”

“Tapi kami tetap bisa mempertahankan aura kami sehingga tak akan begitu sakit.”

“Hem...bicara seenak nya hanya karena aku tak begitu bagus dalam memakai aura.”

“Tapi itu kenyataannya kan.”

Ryo tak menjawab ucapan dari teman-temannya itu. dia hanya mengikuti saja berjalan sampai ke sungai. Setelah sampai mereka mulai memancing ikan disana hingga tak terasa waktu sudah berlalu cukup lama. Saat sore mereka mulai kembali ke desa karena tak mau mengkhawatirkan orang tua mereka.

“Kalian duluan saja, aku ingin berlatih sebentar di sini meningkatkan kemampuanku.”

“Heh..kau yakin! Padahal jika kau pulang cepat kau bisa makan masakannya Rine,” ucap Andrea pada Ryo.

“Jangan bicara sembarangan. Sudah pulang saja sana dan bawa ikan-ikan itu.”

“Hehehehe...sepertinya dia malu-malu. Kau harus cepat pulang Ryo, kau akan  membuat kakek Grant marah jika kau tak segera pulang ke tempat latihan.”

Andreas dan Karma pulang ke desanya sedangkan Ryo tetap tinggal untuk latihan sebentar. Dia berlatih sendiri di pinggiran sungai untuk meningkatkan kemampuannya lagi. Dia mengingat apa yang diajarkan kakek Grant pada nya.

Aura merupakan kemampuan yang tercipta dalam tubuh setiap orang. Aura bisa di gunakan untuk menyerang dan melindungi tubuh seseorang dan untuk setiap orang yang sudah ahli, aura dapat dimanipulasi menjadi elemen alam dan lainnya yang dapat digunakan untuk menyerang.

Dibutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk membuat aura keluar pada tubuh seseorang karena itu-lah ada banyak yang melakukan pelatihan sejak kecil agar saat dewasa bisa menjadi ahli yang pandai.

“Baiklah, harus berkonsentrasi..”

Ryo berdiam diri melakukan konsentrasi untuk memunculkan aura yang ada pada tubuhnya. Sesaat seluruh tubuhnya memancarkan sebuah cahaya putih yang tipis namun sesaat kemudian hal itu menghilang.

“Hah...gagal lagi.  Baiklah akan kulatih terus sampai aku bisa.”

Ryo terus melakukan hal itu dan bahkan mencoba bergerak dan berlari untuk membuat aura nya tetap bertahan di tubuhnya dan tidak langsung menghilang. Dia terus berlatih sampai malam pun tiba. Ryo akhirnya pulang dengan berlari karena khawatir kakek Grant akan memarahinya jika belum pulang. Dan saat itulah dia melihat kobaran cahaya merah yang berasal dari desanya.



Dengan segenap tenaga Ryo mencoba berlari menyelesuri desa untuk mencari teman-temannya. Dia melihat banyak mayat penduduk desa yang tergeletak dan terbakar oleh api yang terus membesar. Ryo berlari menuju gedung tempat pelatihan bela diri (dojo) tanpa memperdulikan api disekitarnya yang berkobar.

“Rine, Karma , Andreas apa kalian di sini?”

Lalu tiba-tiba dia melihat tubuh tergeletak di dekat pohon besar di samping gedung. Dengan tergesa dia langsung menghampiri tubuh tersebut karena mengenali siapa orang yang tergeletak itu.

“Rine...hei bisa dengar aku?”

“Ahh,Ryo apakah itu kau?”

“ Hei, Rine kau terluka!”

Dia melihat tubuh Rine yang tergeletak dalam pangkuannya di penuhi luka antara kaki, tangan hingga perutya. Baju putihnya dipenuhi oleh kotoran dan debu dari tanah. Tubuhnya yang mungil tampak kesakitan dengan luka-luka itu.

“Sepertinya begitu. Ryo, kau harus pergi dari sini sekarang!”

“Apa yang kau katakan? aku akan mengobatimu dan lalu mencari yang lainnya.”

“Terlambat, mereka sudah tertangkap. Kau juga cepatlah pergi sebelum pasukan Greed menangkapmu!”

“Pasukan Greed?”

Ryo bertanya-tanya, pasukan Greed adalah pasukan kerajaan Gradian yang seharusnya melindungi penduduk di sekitar kerajaan tapi mengapa sekarang pasukan itu menyerang desanya. Dia melihat lagi Rine yang masih tergeletak dalam pangkuannya.

“Ya, sekarang pergilah untuk keselamatanmu.”

“Aku tidak mungkin meninggalkan mu, bukankah aku sudah bilang akan melindungimu. Baiklah akan ku bawa kau ke tempat aman di dojo.”

“....” tak ada suara dari Rine, dia tak sadarkan diri karena luka-lukanya.

“Hei, Rine sadarlah!”

"Rine..!!!"

Bruakkk...

Tiba-tiba Ryo runtuh dan jatuh ketanah. Dia tak sadarkan diri dengan ada sebuah jarum kecil yang menancap pada lehernya. Matanya melihat ke arah Rine sebelum akhirnya benar-benar tertutup memudarkan bayangan wajah Rine yang ada di depannya.

“Hmm...sepertinya anak ini mencoba melarikan diri!” ucap seorang pria yang menghampiri Ryo.

“Bawa dia juga ke dalam kereta, kita di suruh untuk membawa beberapa orang dari desa ini.”

“Bagaimana dengan gadis ini?”

“Lupakan, mungkin dia sudah mati.”

“Baiklah!”

“Cepat, kita harus segera pergi sesuai perintah.”


[...]


Bukk...bukkk...barghh  

suara pukulan menggema diseluruh ruangan yang gelap di sebuah ruang bawah tanah. Serta suara besi-besi juga dapat terdengar, menambah kebisingan dengan suara beberapa tawa dari orang-orang yang berada di dalam sana.

Tarrr...

Sesekali suara cambukan juga terdengar menggemma semakin menusuk kengerian dari ruangan tersebut.

“Tak kan kumaafkan!” suara Ryo rilih menahan kesakitan.

Tubuh Ryo dirantai dan diikat pada dinding batu dalam ruangan itu. tubuhnya penuh luka dan darah mengucur dari luka-luka tersebut. Matanya tak mampu melihat lagi karena darah yang menetes pada korneanya,pndangannya kabur melihat pria di depannya yang terus menyiksa dirinya.

“Heh... Kau sepertinya tangguh juga,berbeda dengan temanmu.. hah.”

“Khhukk..uhhhkkk.” darah keluar dari hidung dan mulut Ryo.

“Hehehe...apa kau sudah mau mati, bocah? ini sudah cukup menyenangkan, apa kau punya permintaan terakhir?”

Sudah sehari semenjak dia ditangkap,menjadi bahan siksaan dalam ruang bawah tanah istana kerajaan Gradian. Dia dan beberapa anak menjadi tawanan di situ dan mejadi bahan siksaan juga. Dia memikirkan, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa dia harus mengalami penderitaan ini? Kenapa desa dan setiap orang yang dikenalnya harus mengalami hal ini?

“Kuat, aku ingin jadi lebih kuat!” hanya kata itu yang terlintas di kepala Ryo yang ingin melepaskan diri dan   membawa temannya pergi. Lalu Ryo mendengar sebuah suara yang menggema pada telinganya, membisikan sebuah kata yang membuatnya kebingungan.

 “Apa kau ingin menjadi kuat?”

Ryo sedikit bingung karna baru ini lah dia mendengar suara tersebut, entah darimana dan sepertinya hanya dia yang mendengar suara tersebut yang terus mengulang ucapan itu pada dirinya. Dia mendengar suara itu lagi, lagi dan lagi yang seakan ingin membantunya.

“Jika kau ingin kuat maka aku akan membantumu!”.

Tanpa sadar Ryo menjawab.

“Kalau begitu tolong aku untuk menjadi kuat, aku ingin menjadi kuat!”

“Lalu, untuk apa kau menjadi kuat?” suara tersebut menanyakannya kepada Ryo.

Ryo masih hening dengan pertanyaan tersebut, meski pria di depannya masih tertawa bahagia melihat keadaan Ryo. Ryo mengeretakkan giginya, matanya menatap tajam meski tak begitu jelas apa yang di lihatnya. Lalu akhinya dia menjawab pertanyaan dari suara tersebut.

“Bunuh, bunuh kalian semua..!”suara Ryo terdengar di dalam ruangan.

“Hah, apa kau bilang? ...heh, seorang sepertimu tidak pantas bicara begitu padaku,” teriak pria tua tersebut sambil mengayunkan cambuknya pada Ryo.

Taarrr...

Cambuk itu mengenai tubuh Ryo tapi menempel pada tubuhnya karena ujung cambung itu terdapat pisau kecil yang tajam menusuk pada bahu Ryo.

“Tak akan kumaafkan!, untuk temanku aku akan membunuh kalian semua,” teriak Ryo.


 Dan seketika itu besi belenggu di tubuh Ryo pun terlepas hingga membuat tubuh Ryo terjatuh ke lantai. Tak lama tubuhnya terangkat dan melayang di udara, secara perlahan muncul sebuah bayangan yang mengelilingi tubuhnya. Dimulai dari kaki, tangan, hingga kepala secara perlahan bayangan itu membungkus tubuhnya hingga penuh menjadi kehitaman Lalu terjadilah ledakan di ruang bawah tanah tersebut.

Semua orang yang di ruangan itu tewas kecuali Ryo yang yang masih melayang dengan tatapan kosong sambil diliputi oleh bayangan tersebut. Matanya berubah merah, kesadarannya menghilang hingga dia terlihat lepas kendali Lalu dengan menghentakan kaki ketanah bersama bayangan tersebut Ryo melompat dan menembus ruang bawah tanah serta lantai-lantai istana sampai menuju atap. Sesampainya di atap bayangan tersebut langsung berteriak dengan kencang menatap ke arah langit.

“ Arrggghhhh....aaargghhhhh....”

Seluruh tanah di sekitar istana bergetar meyebabkan gempa dan awan hitam berkumpul tepat di wilayah kerjaan Gradian. Kilatan petir menyambar di dalam gumpalan asap hitam tersebut yang semakin lama semakin meluas ke seluruh wilayah kerajaan Gradian. Lalu, bayangan itu mengarahkan kedua tangannya mengarah kelangit.

Duaarrr...

Petir menyambar-nyambar dari tangan Ryo menuju langit tempat gumpalan asap hitam tersebut, dan dalam sekejap seluruh wilayah langsung dihujani dengan petir yang sangat dahsyat menghancurkan bangunan kota. Satu persatu bangunan di wilayah Gradian tersambar oleh badai petir akibat serangan Ryo sebelumnya.
Semua penduduk kota yang melihat kejadian itu panik dan berhamburan menjauhi bangunan menuju tempat luas yang aman. Pasukan istana yang melihat itu pun ketakutan dan panik namun tetap membantu penduduk untuk berlindung dan beberapa ada yang menuju istana untuk membantu di sana.

Setelah serangan tersebut, Bayangan yang ada di tubuh Ryo itu pun mulai menghancurkan istana. dia melompat dari atap sambil melakukan serangan pada bangunan istana dengan tangannya bahkan membunuh tiap orang yang terlihat olehnya. Dia mengamuk dan menghancurkan istana bahkan kota di sekitar istana juga masih menerima dampak dari serangan petir Ryo yang dirasuki bayangan itu. Ryo yang tak sadarkan diri benar-benar dikuasai oleh bayangan tersebut.

“HAHAHA...HAHA...”

Dengan tawa yang lebar Ryo kemudian menjebol dinding istana dan masuk kembali menuju ruangan tengah. Para prajurit yang ada di dalam istana menyerang Ryo yang menerobos namun satu persatu di kalahkan. Serangan Ryo masih terus berlanjut hingga membuat banyak prajurit tewas dan tempat itu hancur.

Sesampainya di tengah ruangan, dia mengangkat tangannya kembali dan dalam sekejap, sebuah sambaran petir besar menyerang istana hingga membuah separuh istana hancur, menara di sekitarnya runtuh dan banyak prajurit yang terkena serangan tersebut juga tewas. Tampak sebuah ekspresi senyuman meski wajah Ryo masih terliputi oleh bayangan hitam itu.

Di sebuah bukit tak jauh dari istana Gradian.
Seorang pria tinggi yang di selimuti pakaian serba hitam dengan warna rambut panjang yang sama hitamnya. Pandangan mata kecoklatannya menatap kehancuran wilayah kerajaan Gradian dan juga dampak serangan petir yang masih terus menyambar.

“Sepertinya kau sudah melewati batasmu,” ucap pria tersebut sambil bersiap seakan hendak melompat menuju istana Gradian.“aku akan menghentikanmu untuk sekarang.”

Dia melompat dengan kekuatan penuh, di kakinya terbentuk sebuah kilatan cahaya berwarna biru yang membuatnya melesat menuju istana.

Di wilayah istana.
Ryo sudah keluar dari istana yang hampir hancur dia sekarang berdiri di atas salah satu menara  istana yang masih berdiri. Dia mulai mengincar kota dan penduduknya sambil menyerang secara terus menerus. Sambil tertawa tak sedikit pun dia mengurangi serangannya, sementara di bawahnya sudah banyak mayat prajurit dan beberapa yang selamat sedang berusaha menyelamatkan diri.

Ryo kembali menyipkan sebuah serangan, kali ini sebuah bola kecil terbentuk pada kedua tangannya dan dia hendak melempar bola itu ke tengah wilayah. Belum sempat Ryo melempar bola tersebut, tiba-tiba seorang pria mencengkram wajah Ryo dengan tangan kirinya lalu mendorong Ryo hingga terlempar menuju tanah.

Bummm....

Lubang besar tercipta dari benturan tubuh Ryo yang masih tergeletak di tanah. Pria yang sebelumnya itu kembali menyerang Ryo dengan mencekiknya, tangan Ryo berusaha melepas tangan pria tersebut namun tak mampu. Selanjutnya, muncul asap hitam dari tangan pria tersebut lalu memasuki hidung dan mulut Ryo yang masih meronta seperti kesakitan. Hingga akhirnya Ryo berhenti bergerak lalu tak sadarkan diri di tempat itu.

Saat tersadar Ryo sudah berada di hutan, tergeletak di bawah pohon. Pria itu membawanya dari istana ke tempat itu. Keadaan Ryo sudah kembali seperti sebelumnya dengan luka-luka yang masih ada di tubuhnya. Tak ada lagi bayangan hitam yang melekat pada tubuhnya, dia sepenuhnya sudah kembali kekeadaan normal hingga akhirnya dia terbangun dari pingsannya.

“Uhh, apa yang terjadi?”

Dia melihat dirinya sendiri lalu keadaan di sekitarnya kemudian ,Ryo melihat seorang pria berdiri di depannya. Seorang pria tinggi dengan baju hitam dan pedang besar di punggungnya sedang menatapnya tajam sambil bersandar di pohon.

“Siapa kau?” tanya Ryo.

“Aku Zai! Aku yang membawamu ke sini. Sepertinya kau baru melakukan hal gila di istana itu.” pria itu menunjuk ke arah istana yang berada tepat di belakang Ryo.

"Istana! ahh... istananya hancur dan ada apa dengan awan petir yang terus menyambar itu?"ucap Ryo terkejut sambil menoleh ke arah istana yang ada di belakangnya.

"...." Ryo diam sesaat lalu mulai berbicara."siapa yang melakukannya? apa kau yang menghancurkan istana dan membantuku ?"

"Bukan aku tapi kau yang melakukannya!" jawab Zai.

Ryo sedikit binggung dengan apa yang di ucapkan pria itu. "A..aku! bagaimana?"

Lalu dia teringat dengan suara yang dia dengar saat di ruang bawah tanah. Dia bertanya-tanya, apa mungkin suara itu yang membantunya dan mengabulkan keinginannya untuk pergi dari istana. Kemudian dia teringat teman-teman nya yang ada di ruang bawah tanah.

"Teman-teman ku, bagaimana mereka?" tanya Ryo.

"Mungkin semuanya sudah tewas di dalam istana," jawab Zai.

"Tidak mungkin..." teriak Ryo. Kemudian Ryo mencoba berdiri dan dia masih tak percaya denga ucapan dari Zai.

Dia mencoba tegak dengan dibantu oleh batang pohon yang di pegannya dengan pelan. Setelah berdiri tegak, dia melihat ke arah Zai mencoba menanyakan beberapa hal lagi namun betapa terkejutnya dia setelah melihat wajah Zai secara jelas.

“Ahh....”

“Ada apa?” tanya zai.

“Mata itu....” sambil menunjuk ke arah mata kiri Zai.

“Hmmm, kau tau mata ini?” menatap dengan pandangan yang dingin sambil menunjuk matanya sendiri.

“Kau, mata itu... Itu adalah mata berharga milik Rine.”

Ryo berlari lalu melompat dan mencoba memukul Zai dengan tangan kanannya. Zai mengangkat tangan kirinya ke depan dan lalu tubuh Ryo melayang dan berhenti di udara.

“Kau ingin memukul orang yang menolongmu!” ucap Zai.

“Jangan bercanda, mata itu... mata itu bagaimana kau memilikinya,” teriak Ryo

“Tentu saja aku memilikinya. Aku mengambilnya langsung dari mayat seorang gadis di sebuah desa kecil yang bernama desa Cramac.”

Seperti disambar petir, Ryo terkejut dan kembali mengingat kejadian pada desanya.

“Hah...itu berati kau di sana saat desaku diserang,” ucap Ryo.

“Ya, aku di sana dan aku juga ikut dalam penyerangan.  apa kau menginginkannya, Mata ini?” Zai menunjuk mata kirinya

“Ahh.. desaku , Rine .  kembalikan mata Rine padaku,” Ryo marah dan mulai berontak mencoba melepaskan diri.

“Kalau begitu, bunuh aku...jadi lah lebih kuat dan tantang aku bertarung untuk mata ini.” Zai melempar Ryo ke arah pohon dengan mendorongnya.

“Aku The Immortal Zai, ingat namaku. Hiduplah dan coba bunuh aku.”

Lalu Zai menyerang Ryo dengan sebuah asap hitam dari tangan kirinya.  Dalam serangan itu Zai menghilang begitu saja tanpa jejak. Hari mulai gelap, Ryo tergeletak tak berdaya setelah serangan itu. Mengingat apa yang telah terjadi  air matanya mengalir mengingat temannya Rine dan juga desanya. Dia tidak mengingat apa yang terjadi pada dirinya di istana tapi tentang Zai dan mata Rine yang dimiliki Zai membuat hatinya merasa sakit. Dalam kesedihan Ryo pingsan bersamaan datangnya malam.

Awal segalanya, kejadian yang merubah hidup Ryo. Kehilangan tempat tinggal dan teman serta kejadian di istana yang tidak dapat dimengerti. Dalam ketidak mengertiannya itu, akan muncul masalaha baru. Akibat kerjadian yang terjadi pada istana Gradian, nama nya akan di kenal sebagai Massacre From Gradian. Seorang anak gila yang menghancurkan sebuah kerajaan dan kota di sekitarnya. Seorang anak kecil yang mendapat harga buronan tinggi melebihi 100 juta Cells. Seorang anak yang menjadi orang ke 13 yang mendapat sebutan sebagai Geist.


[END]


0 komentar:

Post a Comment

Pengunjung yang baik selalu berkomentar yang baik dan relevan.
Terimakasih.

Back to top