Saturday, May 30, 2015

// // 19 komentar

#Reminisce - Memori Two: Morning After

Bagikan:

#Reminisce - [IKKEMAN] [ЯƎMIИIƧƆƎ]
 Written by Uji

~Story Index "Click Here"~

=============================================

~Chapter II


------------------------------
     "Morning After"
------------------------------

“HOYY....” teriaku berulang kali.

Kini aku sedang mencoba turun ke sungai, pergi dengan sedikit harapan agar aku bisa menemukan titik terang tentang gadis tersebut.

“Sial,” umpatku dalam hati, tak kusangka aku bisa sampai sejauh ini. jika aku pikir itu halusinasi, mungkin aku tidak akan mungkin sepeduli ini hingga harus turun sungai, tapi tadi itu terlihat sangat nyata.

Lebih baik aku cari tahu sekarang juga, mungkin aku menemukan sebuah petunjuk, kalaupun tak mendapatkannya, setidaknya aku bisa menghilangkan rasa penasaranku ini yang sedari tadi terus mendorongku untuk mencari tahu keberadaan gadis tersebut.

Sambil tubuhku terus menyisir rerumputan yang menghalangi jalan, mataku tak pernah lepas dari titik posisi dimana gadis itu terjun, Mencari-cari tanda-tanda keberadaan tubuhnya sambil sesekali melihat ke bawah agar tak ada kerikil atau apaun yang bisa membuatku jatuh terperosot.

Tak memakan waktu lama, aku sudah sampai di sisi sungai. Jika kuperhatikan, jarak tinggi sungai dengan jembatan lumayan jauh juga, mungkin tingginya sepuluh kali lipat dari tinggi tubuhku ini, bahkan aku harus memicingkan mataku agar aku bisa melihat ke arah jembatan tempat gadis itu melompat.
illust by http://id.hdlandscapewallpaper.com/hutan-gelap/

Kalau aku tak salah kira, tubuh gadis itu mungkin berada di tengah sungai, berdekatan dengan batu besar berbentuk seperti kacang hijau raksasa. karena jaraknya yang berada di tengah sungai, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.

“Ya.. ya.. sudah kuduga aku harus melompat ke tengah sungai,” ujarku sedikit kesal, dengan enggan kubuka sepatuku Kets yang sudah tak berbentuk ini.

Satu-persatu batu sungai kulompati, beberapa dari batu tersebut agak sedikit licin sehingga aku harus menambah tingkat kewaspadaanku,belum lagi air sungai yang kadang menciprati kakiku.

Setelah sampai di tengah sungai, apa yang aku dapatkan? Tidak ada sama sekali, jangankan tubuh seorang manusia, bahkan cipratan darah dan sehelai rambutpun tak kutemukan. benar-benar aku sudah dipermainkan oleh halusinasiku sendiri.

“Haha-hahaha...” tawaku menertawakan kebodohan atas apa yang kulakukan kali ini. memang sepertinya negeri ini seolah membenciku, terbukti dari mulai aku keluar dari bandara hingga sekarang aku dengan bodohnya berdiri di tengah sungai. belum lagi aku sempat kena tipu sopir bis. Sial sekali, aku mulai meragukan apa aku akan benar-benar betah tinggal disini.

Sebaiknya aku segera pulang dan melanjutkan perjalanan menujudesa, terlebih hari sudah semakin gelap, dan lihat tampangku, aku sudah seperti babi yang seharian bergumul di lumpur basah. Lengkap dengan bau lumpur dan bau keringat yang mungkin bisa dicium dari jarak puluhan meter.

Sebelum aku membalikan badan, mataku tanpa sengaja menemukan sesuatu yang berkilau terhimpit di celah-celah batu.

“Apa itu?” tanyaku penasaran, tak perlu berfikir lama, aku langsung mendekatkan tubuhku dan mengambil benda tersebut.

Kurogohkan tanganku di antara himpitan-himpitan bebatuan. Sementara tubuhku merunduk agak bawah agar aku bisa menjangkaunya.

“Sebuah kalung liontin?” tanyaku begitu menggengam benda tersebut. buru-buru kubersihkan.

Ternyata benar ini adalah kalung liontin, ukurannya cukup besar jika dibandingkan kalung liontin dipasaran, berbentuk segitiga dengan lengkungan di tiap sisinya, mirip seperti plectrum untuk memetik gitar. Atau memang terbuat dari itu? Mungkin saja. Selain itu juga dibagian tengahnya terdapat ukiran-ukiran yang aku tidak tau apa bentuknya, mungkin mirip seperti kepala kerbau. Yang pasti kalung liontin ini jika ditaksir harganya bisa membeli dua buah smartphone keluaran terbaru.

“Apa mungkin ini milik gadis itu?” tanyaku spontan, tak kusangka aku masih saja menganggap halusinasiku itu nyata.

Lebih baik kusimpan saja, mungkin ini milik salah seorang warga desa yang tak sengaja menjatuhkannya ke sungai.

SREET

Tak tau apa yang terjadi, setelah aku memasukan kalung tersebut ke dalam tasku,  tiba-tiba tubuhku kehilangan keseimbangan, oleng seolah-olah ada sesuatu yang menahan kaki kananku. Kucoba mengembalikan keseimbangan tubuhku namun pandanganku mulai kabur, gelap dan terasa dingin disekitar ubun-ubunku. Dan sampai disinilah aku mulai tak sadarkan diri.

***

TIK...TOK...TIK...TOK..

Suara jam dinding adalah suara yang pertama kali kudengar saat aku mulai membuka mataku.
“Dimana aku?” ujarku sambil sedikit meringis kesakitan dibagian kepalaku.

Aku bangun dengan hati-hati.
Belum begitu jelas pandanganku, namun aku bisa menebak aku sedang berada di sebuah kamar. Selimut tebal bergambar salah satu klub sepak bola Eropa menutupi sebagian tubuhku.

"Paman sudah bangun?"

Terdengarsuara lembut dari arah  kiriku. Tubuhnya yang kecil bersandar di senderan bangku yang tingginya lebih tinggi dari tinggi badannya, rambutnya yang berwarna hitam pekat dibiarkan terkuncir. Sementara matanya yang bulat besar tampak kelelahan. Apakah ia menungguku selama aku tertidur?.

"Sebentarya paman, aku akan panggilkan pak kepala desa dan pak dokter dulu diluar." lanjutnya, sambil berjalan keluar.

Tak lama dua orang bapak-bapak tua dan gadis tersebut masuk ke arah kamar tempat aku terbaring.

"Syukurlah pak guru sudah siuman," ucap orang tua berkumis tebal yang menjuntai di kedua sisinya mirip gading seekor walrus.

Aku menaikan posisiku sedikit dan bersandar dibagian atas ranjang.

"Maaf sebelumnya, aku berada dimana ya? Apakah aku ada di desa Kalimaya?" Tanyaku memastikan.

"Benar sekali, dua hari yang lalu anda di temukan pingsan di atas batu sungai dekat jalan masuk desa oleh salah seorang warga kami." jelasnya secara gamblang seolah tidak ingin ada detail yang terlewatan.

"Tunggu dulu, apa yang Bapak maksud dengan 2 hari? Apakah aku tertidur selama itu?" Tanyaku, kaget.

"Iya, kami sempat khawatir anda tidak akan siuman dan kami berencana untuk membawa anda ke kota, tapi syukur kami tak perlu melakukannya." jawabnya.

"Oh iya, apakah benar anda guru yang akan mengajar di sekolah desa Kalimaya ini?" Tanyanya.

"Iya,  maaf aku sudah merepotkan kalian,"ucapku.

"Tak perlu sungkan, kamipun salah tidak menjemputmu di depan gerbang masuk desa."

"Sebelumnya perkenalkan, Nama saya Agus Salim, kepala desa di desa Kalimaya ini."ucapnya memperkenalkan diri.

"Nama saya Ady Eki Kazami." Jawabku balik memperkenalkan diri.

"Oh iya pak guru," ucapnya tiba-tiba memanggilku guru.

"Yang membuat saya penasaran, apa yang pak guru lakukan di tengah sungai?"Lanjutnya bertanya.

"Entahlah, saya tidak begitu ingat." Jawabku.

"Sudahlah, jangan terlalu memaksanya berfikir dulu," ucap orang tua lainnya, sambil berjalan mendekat ke arahku. Kemudian ia duduk dan membuka koper bawaannya.

"Aku dokter di desa ini, salam kenal Pak Guru," ucapnya ikut-ikutan memanggilku guru. Ia lalu mengeluarkan testimeter, sebuah alat pengukur tekanan darah.

"Kepalakamu luka lumayan parah di bagian belakang, saya bisa simpulkan kalau kamu membentur bebatuan sungai." ucapnya sebari menggulungkan bagian kain alat tersebut ke lenganku, lalu mulai memompa-mompanya.

Selama pemeriksaan ini pikiranku melayang tak tentu, memikirkan kejadian beberapa waktu lalu saat aku melakukan perjalanan ke desa ini. Tentang gadis halte, tentang gadis lompat dari sungai, dan juga tentang kalung liontin di dasar sungai. Aku tentu saja tidak melupakannya, hanya saja aku pikir ini bukan saat yang tepat untuk menceritakannya.

"Beruntunglah kamu, karena kamu hanya mengalami cedera ringan di kepala, kamu tinggal beristirahat beberapa hari maka kondisimu akan baik seperti semula."

"Oh iya, perban di kepalamu itu harap diganti setiap hari ya," lanjutnya. Aku baru sadar ada perban terlilit rapi di kepalaku.

"Kalo begitu, sebaiknya kamu istirahat dulu saja disini, anggap ini rumah kamu. Kalo ada perlu apa-apa tinggal panggil saja Ratna."  perintah kepala desa sambil menunjuk ke arah gadis di sebelahnya.
Jadi namanya Ratna.

Sebelum mereka pergi, aku meminta kepada Ratna untuk mengambilkan tas ranselku.

"Ini pak guru," ucapnya sambil menyodorkan tas ranselku.

"Terimakasih, maaf sudah banyak merepotkanmu."

Ratna pun pergi begitu saja keluar kamar tanpa mengeluarkan sepatah kata. Aku heran kenapa mereka memanggilku guru seolah aku ini ahli spiritual dari agama Budha. Atau mungkin itu memang kebiasaan mereka. Tak penting.

Aku membuka tas ranselku, mencari-cari barang yang baru aku temukan di sungai. Kalung liontin berwarna perak dengan ukiran kepala kambing, kuputar-putar kesegala arah, tapi tak menemukan petunjuk lain selain karat dibagian rantainya.

Tidak, mana mungkin ini milik gadis itu, mungkin benar seperti dugaanku sebelumnya jika ini milik salah satu warga di desa ini. Aku mencoba untuk tidak mempercayai halusinasiku, namun sejujurnya aku masih saja dibuat penasaran olehnya. Mungkin suatu hari nanti aku harus menyelidikinya.

Untuk saat ini, Sebaiknya aku istirahat sebentar, nanti malam aku harus segera menuju rumah kontrakanku. Tidak enak juga berlama-lama merepotkan orang disini.

***

Sekitar pukul 8 malam tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar.

"Permisi! Apa pak guru sudah bangun?" Kubuka pintu kamar, ternyata itu adalah Ratna.

"Maaf pak guru, anuu.... aku disuruh pak kepala desa untuk memanggil pak guru, katanya makan malam sudah siap," ucapnya, dengan sedikit malu-malu. Karena tubuhnya yang kecil, aku harus merundukan kepalaku kebawah untuk menatapnya. Sementara gaya bicaranya yang imut membuatku ingin sekali mencubiti pipinya.

Begitu aku mendengar kata makan, aku mulai semangat. Ini bukan berarti aku gila makan, hanya saja ini kebetulan sekali karena aku belum makan makanan apapun semenjak turun dari pesawat, setauku. Aku tidak tahu apakah aku diberi makan atau vitamin atau sesuatu saat aku koma, yang pasti saat ini aku sangat lapar sekali.

"Oh iya, aku akan segera kesana sebentar lagi." Jawabku.

"Baiklah,aku kesana duluan ya, kita makan di ruang tengah, tinggal belok saja kekanan, nanti pak guru akan langsung sampai di ruang tengah." Jelasnya padaku,seolah tidak ingin aku tersesat di rumah ini.

Sebaiknya aku segera bergegas. Aku mengganti pakaian- yang aku tak tahu milik siapa ini-dengan pakaianku semula yang sudah dicuci bersih. Lalu merapikan barang-barangku, termasuk obat dan perban yang dokter berikan.

Sekitar15 menit semenjak Ratna mengajakku makan malam, aku pergi keluar kamar menuju ruang tamu berdasarkan petunjuk dari Ratna. Ngomong-ngomong aku belum memperkenalkan diri kepada Ratna, tak sopan juga padahal aku sudah banyak merepotkannya.

Begitu sampai di ruang tamu, aku di kejutkan dengan jumlah orang yang hadir di ruangan tersebut, selain pak kepala desa dan Ratna, hadir juga beberapa orang yang kupikir jumlahnya terlalu banyak untuk sekedar makan malam biasa.

Selain itu yang membuat aku heran adalah letak posisi makannya. Tidak ada meja, tidak ada kursi, bahkan tidak ada bantal untuk duduk, makanan digeletakan begitu saja di atas lantai dan daun pisang. Menjijikan.

"Ini dia Pak Guru yang baru datang dari Jepang," ucap kepala desa memperkenalkan diriku yang dilanjutkan oleh senyum lebar dari orang-orang yang hadir.

Apa ini? Pesta penyambutankah? Hebat sekali aku sampai harus disambut segala. Bukannya apa-apa, aku hanya kurang suka jika terlalu dianggap spesial, aku terbiasa hidup dibalik layar, menyaksikan orang-orang bersandiwara di depanku.

Yang aku bisa lakukan hanya  tersenyum kecut mendapatkan perhatian seperti ini dari mereka.

"Mari disini pak guru," ajak salah seorang warga desa mengajakku untuk duduk dekat dengan mereka.

"Ngomong-ngomong kenapa Pak Guru membawa tas?" tanya kepala.

"Iya, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada pak Agus yang telah menolong saya. Tapi menurut saya lebih baik saya secepatnya menengok rumah kontrakan saya." jelasku.

"Bukannya lebih baik pak guru tinggal disini barang 1 atau 2 hari lagi?" tanya kepala Desa.

"Tidak usah, saya sudah baikkan kok, maaf banyak-banyak merepotkan kalian."

"Baiklah kalo itu mau pak guru, Ratna kemari sebentar," ucap pak kepala desa sambil memanggil Ratna lalu ia membisikan sesuatu kepada Ratna, tak sampai beberapa detik Ratna langsung pergi keluar Rumah.

"Aku sudah menyuruh Ratna untuk memanggil anak-anak untuk mengantar pak guru menujudesa, sambil menunggu lebih baik kita makan dulu."

Ibu-ibu yang berada dekat dengan wadah nasi mulai menuangkan nasi kedalam beberapa piring, sementara yang lainnya bergotong-royong membagikan nasi yang sudah diwadahi.

Dihadapanku kini ada sepiring nasi, beberapa ikan goreng, ayam bakar, dan daging sapi panggang. Yang menjadi pertanyaanku sekarang bukan kehigienisan lagi, melainkan sebuah peralatan makan yang normalnya selalu ada, sendok, garpu, dan sumpit. Ada apa dengan mereka? Apa mereka melupakannya?

"Pak Guru kenapa bengong saja? Apa pak guru belum pernah makan seperti ini?" Ucap salah seorang warga.

Aku hanya bisa tersenyum malu.

"Hahaha...makan menggunakan tangan saja pak guru, lebih nikmat," Sahut salah seorang warga lainnya sambil tertawa.

Yang benar saja, mana bisa aku makan menggunakan tangan.

"Ayo pak guru, jangan malu-malu," ejek salah seorang warga desa.

Malu dari hongkong. Terpaksa aku mengikuti apa yang mereka mau.

"Beginikan?.. Hmm.. Ammm. krekk-krekk," dengan sengaja aku memperagakannya di depan mereka semua., tapi aku merasakan sesuatu yang keras dimulutku.

"Wah pak guru hebat, Tapi lain kali jangan lupa kupas kulit telurnya dulu ... hahaha," tawanya salah seorang warga terbahak-bahak yang diikuti oleh tawa semua orang.

Sial, pantas saja tadi keras sekali, aku sama sekali tidak tahu makanan ini, telur apa ini? Ularkah? Lagi pula Bukannya seharusnya dikupas dulu kulitnya sebelum dihidangkan? Kulihat kembali telur yang barusan kumakan, ukurannya memang kecilmirip telur ular namun dengan bintik-bintik hitam di sekelilingnya.

Tak perlu waktu lama, aku sudah terbiasa makan menggunakan tangan, untuk pertama kali memang agak kesulitan, namun setelah tahu triknya akhirnya aku terbiasa juga.

Kulihat sekelilingku, beberapa orang makan sambil bercengkrama dengan orang lainnya. Hal yang tidak pernah aku jumpai ketika aku makan bersama keluargaku. Bukannya aku keluargaku kurang harmonis, hanya saja keluargaku terlalu menjunjung tinggi tata krama, sangat jauh berbeda dengan disini, mereka seolah melakukan hal yang sebaliknya. Namun suasana seperti inilah yang paling aku suka. Hangat dan apa adanya.
Selang beberapa waktu, Ratna tiba-tiba datang. Memberi tahu kalau anak-anak sudah datang dan sedang menunggu diluar.

Aku bergegas, makananku pun sudah habis. Sebelum pergi tentu saja aku berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada keluarga kepala desa dan yang lainnya.

Begitu keluar pintu, aku disambut oleh 5 orang anak desa yang usianya bermacam-macam, kebanyakan mungkin seusia anak SMA, namun ada juga yang masih kecil seusia anak SD.

"Mari pak guru biar kami antar," ucap Ratna padaku.

http://www.wall321.com/Nature/Forests/
Akupun mengikuti langkah mereka. Mereka berjalan agak sedikit lambat sehingga aku harus menyesuaikan langkahku, mungkin karena tidak ada lampu jalan sama sekali. Kami disini hanya bergantung kepada penerangan dari cahaya lampu senter yang dipegang anak laki-laki di depan sehingga kami perlu berjalan lebih hati-hati.



"Kakak, perkenalkan. Namaku Reva. Aku siswi sekolah desa kalimaya ini," ucap salah seorang anak yang tiba-tiba berhenti dan berjalan dekat di sebelahku.

"Nama kakak, Ady," ucapku sedikit sungkan.

"Apa benar Kakak akan mengajar di sekolah kami?" tanyanya.

"Benar, kamu kelas berapa?" Tanyaku sedikit basa-basi, mencoba untuk tidak terlalu kaku.

"Aku kelas 2 SMP. Wah, asik dong, kita punya guru seorang bule, hehe" Jawabnya sedikit menggodaku.

"Kalo gitu, kakak mau gak jadi pembimbing klub kami, kami berlima gabung di klub literatur, sampai saat ini belum ada guru yang mau menjadi pembimbing klub kami. Mau yah?" Pintanya dengan memelas, matanya yang bulat terlihat seperti tak mengijinkanku untuk menolaknya.

"Gimana ya..." pikirku. Sementara aku berfikir, aku baru sadar ternyata langkah anak-anak lainnya terhenti, mata mereka menunjukan mata yang sama penasarannya dengan mata Reva. Sepertinya aku tidak bisa menolaknya.

"Baiklah, kalian mendapatkanku." Jawabku.

"Asik, akhirnya." Sorak Reva dan semua anak yang mengantarku ini.

"Kakak, perkenalkan namaku Nadifha, aku kelas 2 SMP," ucap salah seorang anak perempuan lainnya, mendadak ramah kepadaku.

"Dan yang di depan, satu-satunya laki-laki di klub kami bernama Fajar. Dia kakak kelasku, kelas 3 SMA." Lanjutnya, sambil menunjuk ke arah anak laki-laki yang berjalan paling depan.

Sepanjang perjalanan kami mengobrol tentang beberapa hal, kebanyakan tentang sekolah. Yang aku ketahui ternyata sekolah mereka bukan sekolah biasa. Kata mereka aku harus melihatnnya sendiri, sedikit membuatku penasaran.

Tanpa terasa kami sudah sampai di depan pintu rumah kontrakanku. Rumah kontrakan kubergaya khas rumah-rumah Indonesia, mirip seperti yang pernah aku lihat dibuku, hanya saja ini agak sedikit lebih kecil, ya memang aku memesan yang hanya mempunyai satu kamar, karena aku tidak begitu menyukai rumah yang ukurannya besar, lagipula aku hanya hidup sendiri disini.

"Cukup sampai disini saja ya, terima kasih sudah mau jauh-jauh mengantar saya sampa isini." ujarku.

"Kakak yakin tidak ingin kami antar sampai dalam?" Tanya Reva.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Lagian sudah malam dan kalian mesti sekolah besok." Jawabku.

"Yasudah, sampai ketemu besok ya, Kak." Ucap Reva sambil pergi, lalu diikuti oleh anak-anak lainnya.

Karena sudah malam dan tubuhku sangat lelah sekali, akupun langsung masuk kedalam rumah kontrakanku untuk segera berisitirahat.

***

Sinar matahari pagi yang hangat menerpa wajahku, membangunkanku dari tidur malam yangnyenyak sekali.
Kulihat jam tanganku-yang tentu saja sudah kuatur ke waktu di tempat ini- Baru menunjukan pukul tujuh kurang beberapa menit. Baru kali ini aku bangun sepagi ini. Biasanya jam segini aku masih tergeletak di kasur, bermain-main di alam bawah sadar ciptaan otakku sendiri yang disebut, mimpi.

Rasa sakit di bagian belakang kepalaku masih terasa, untung saja perbannya sudah aku ganti semalam.
Aku mulai berfikir, apakah aku akan langsung mengajar, atau beristirahat seharian dulu? Toh aku juga masih punya banyak waktu untuk bersantai dulu dan mengenal lebih dekat dengan desa Kalimaya yang mulai kusukai ini.

Mumpung masih pagi, sebaiknya aku keluar sambil mencari udara segar. Setelah kubuka pintu depan rumah kontrakanku. Aku dikejutkan oleh kehadiran lima orang anak yang semalam mengantarku kesini. Mereka semua sudah rapi dengan seragam dan tassekolah mereka.

"Selamat pagi, pak guru. Apakah pak guru akan ke sekolah hari ini?" Ucap Reva dengan semangat.


==========================================================================


Maaf-maaf, seharusnya ini saya update pas hari kamis kemarin pas malem jum'at. Tapi karena lupa jadi hari ini baru saya posting.

Memori lain, klik aja tulisannya.

Cerita sebelumnya:                                                                                                Cerita selanjutnya:
Memori One                                                                                            Memori Three

19 comments:

  1. Gue masih belum ngerti. Apa ini cerita bersambung, atau gimana. Tapi dari awal, cerita ini sukses bikin aku penasaran. Tapi, yaaa gitu deh.. Gue masih belum ngerti sama endingnya. Itu sih menurut gue..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini cerita bersambung gan, masih ada 6 memori lagi
      totalnya ada 8 bagian.

      Delete
  2. lagi membayangan telur ular dengan bintik2 disekelilingnya.
    hmm, ini kok agak ekstrem yak. ngomong2 desa kalimaya, gue jadi inget kegiatan sekolah beberapa waktu lalu~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Telur puyuh gan, bintik hitam telurnya kecil.

      Kegiatan apa emangnya gan
      nyari batu ya
      ckck

      Delete
  3. seru ceritanya, alurnya menarik, dan seperti kisah nyata. Kejadian pada saat makan pun seperti kejadian nyata, makan bersama-sama dengan warga. Kemudian diksi kata-katanya juga bagus, endingnya nendang, jadi nggak sabar menunggu cerita selanjutnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya, saran saya font tulisannya diganti, soalnya terlalu kecil

      Delete
    2. Kamis depan gan, semoga ane nggak lupa postingnya.

      ah iya, fontnya ya
      akan saya perbaiki gan
      terimakasih sarannya gan

      Delete
  4. Gue baru pertama kali baca cerpen fiksi, menarik sekali tulisannya .. bisa membuat gue membayangkan apa yang sedang terjadi pada setiap plotnya. Gue saranin, kalo TS suka nonton-nonton film buatlah film serial ini di YouTube, gue yakin respon masyarakat Indonesia sangat bangga dan memberi apresiasi yang luar biasa. Gasabaaaaarrrr kalo bisa jadi film gue penonton yang pertama :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih gan

      wh film ya, banyak yg harus dilakuin tuh untuk membuat videonya. nggak bisa sendiri.
      Niat awal sih pingin ini diterbitin ya setidaknya dikenalin lewat buku.

      Delete
  5. Ini lanjutan cerita yang minggu lalu ya, yang turun dari bis terus terpaksa melanjutak perjalan dengan perjalan kaki, dan tiba-tiba ketemu cewe di halte, cewe di halte belu juga terungkap ini siapa, tiba-tiba udah nongol lagi aja cewe yang lompat ke sungai, gila bayanginnya serem banget nih desa, penuh mistis dan misteri.

    oh ternyata tujuan dia datang ke desa itu untuk jadi guru pengajarnya ya, gue kira dia pulang kampung. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ini sambungannya gan.


      dia ngajar karena permintaan kakeknya buat ngajar di desa itu

      Delete
  6. Ceritanya ngalir, menghanyutkan :)

    ReplyDelete
  7. Masih bingung arah ceritanya kemana haha mungkin karena belum baca cerita pertamanya kali ya

    Btw penasaran ama liontin yang bikin si pak guru jadi pingsan di sungai gitu aja. ditunggu lanjtan ceritanya nih bro Ara

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamis depan ya gan kalau saya inget
      :)

      ini memang sengaja dibuat membingungkan oleh teman ane gan.

      Delete
  8. Jadi tambah penasaran dengan lanjutannya....

    Sepertinya bagian kedua misterinya kurang dapat dibanding dengan bagian pertama, kalau menurut saya.
    Tapi saya suka, bagaimana cerita diatas menceritakan keadaan desa, warga desa, dll. Dapat terlihat dengan jelas adegannya dalam kepala...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini memang nggak dibikin misteri kok
      cuma nunjukin desanya

      Delete

Pengunjung yang baik selalu berkomentar yang baik dan relevan.
Terimakasih.

Back to top