Saturday, June 6, 2015

// // 18 komentar

#Reminisce - Memori Three: School Time

Bagikan:


#Reminisce - [IKKEMAN] [ЯƎMIИIƧƆƎ]
 Written by Ara

~Story Index "Click Here"~

==========================================================================


~Chapter III


------------------------------
     "School Time"
------------------------------






"Selamat pagi, pak guru! Apakah pak guru akan ke sekolah hari ini?"

Suara itu langsung mengejutkanku sesaat aku baru melangkahkan kakiku ke luar rumah. Aku lihat, kelima anak yang mengantarku semalam sudah berdiri menungguku dengan seragam sekolah mereka.

“Kalian?” ucapku setelah terkejut dengan kehadiran mereka.

“Pak guru, ayo berangkat ke sekolah sama-sama!” pinta Reva lagi setelah dia menyapaku sebelumnya.

“Hah... tunggu! Apa kalian menungguku di luar sejak tadi?” tanyaku yang langsung penasaran.

“Tentu, karena pak guru adalah pembimbing club kami jadi kami ingin berangkat bersama,” jawab Reva dengan semangatnya.

Aku sempat berpikir, hari masihlah pagi jadi suasana di pedesaan ini masih terasa dingin. Aku yang baru bangun saja langsung merasakan dinginnya angin pagi yang menusuk tubuhku, apalagi mereka yang hanya mengenakan seragam sekolah yang terlihat tidak terlalu tebal itu. Tapi begitu melihat wajah Reva yang penuh semangat dan juga anak lainnya aku sedikit sadar, mereka sepertinya sudah terbiasa dengan hawa dingin di pagi hari seperti ini.

“Baiklah-baiklah, tunggu disini sebentar lagi. Aku mau siap-siap dulu.”

Setelah mengucapkan itu, aku segera masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka. Aku mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi, karena masih terlalu dingin jadi aku hanya sebentar lalu melanjutkan dengan menggosok gigi. Sekitar 15 menit aku selesai, pakaian sudah kupakai lengkap dengan jam dan kaca mataku. Kuperhatikan lagi, jam baru saja menunjukan jam 7, sangat berbeda dengan negara asalku yang biasanya aku masih bisa tiduran saat jam segini.

Setelah semuanya siap, aku langsung menuju keluar rumah. Karena tak mau membuat mereka menunggu lebih lama aku segera berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu. Lagi pula apa yang bisa kumakan karena baru saja aku pindah semalam jadi tak mungkin sempat mempersiapkan semuanya. Aku hanya berharap di sekolah nanti ada kantin yang bisa aku singgahi sebentar.

“Baiklah semuanya, ayo berangkat!” ucapku kepada mereka semua.

“Umm... apa pak guru sudah sarapan?” tanya Ratna tiba-tiba padaku.

“Ah... maaf sekali, kakak tadi nggak sempat buat makan,” jawabku spontan.

“Kalau begitu ini.” Tangan Ratna menyodorkan sebuah wadah plastik ke arahku, “tadi saat kesini pak kepala desa menitipkannya kepadaku.”

“Apa ini?” tanyaku setelah membuka wadah plastik tersebut.

“Wah... enak sekali! Pak guru dapat gorengan, ada bakwan, tahu sama tempe oncom,” teriak Reva yang langsung medekat setelah aku membuka wadah itu. 

“Aku mau, bagi dong Pak!”

“Reva! Jaga sikapmu, yang sopan sama yang lebih tua,” tiba-tiba suara Fajar memecahkan keributan yang dibuat oleh Reva sebelumnya.

Ini adalah pertama kalinya aku melihat Fajar bicara. Semalam karena dia terus berjalan sambil membawa senter di depan kami jadi kami tak pernah bicara. Dari yang kulihat, dia cukup lumayan dengan tubuh atletis yang dimilikinya.

“Apa masalahnya Kak Fajar, aku kan cuma minta sedikit,” balas Reva untuk membela diri.

“Tapi tidak seperti itu juga, sopanlah sedikit,” lanjut Fajar padanya.

“Sudah, tak apa-apa kok. Kalau kalian ingin silahkan makan juga, aku tak mungkin bisa menghabiskan semuanya,” ucapku menenangkan mereka berdua.

“Tuh, pak guru juga ngak apa-apa kok, weee,” ungkap Reva sambil menjulurkan lidahnya ke arah fajar.

“Kalau gitu aku juga minta Pak guru,” ucap seorang gadis berambut pendek ikal sebatas lehernya.

“Silahkan...ah...emm?”

Aku hendak mengucapkan namanya, namun entah kenapa sepertinya aku belum mengenalnya sejak semalam. Jadi aku sedikit kebingungan sambil menatap gadis yang sepertinya seumuran dengan Reva itu.

“Oh iya, siapa namamu?” tanyaku langsung padanya.

“Aku Icha, apa Reva semalam tak mengenalakanku pada Pak guru.”

“Ah, maaf. Aku lupa. Semalam karena senang kita mendapat pembimbing aku jadi lupa mengenalkanmu,” ucap Reva dengan santainya.

“Kau curang Reva, kenapa cuma aku yang tak kau kenalkan.”

“Maaf-maaf, lagipula salahmu yang tak mengambil inisiatif. Bahkan semalam Nadhifa sendiri yang mengenalkan dirinya.”

Aku mengingat tentang Nadhifa yang baru disebutkan oleh Reva. Dia adalah gadis yang tiba-tiba ramah padaku. Aku lihat dia, sejak awal kami berangkat dari rumahku dia terlihat yang paling pendiam. Sudah cukup lama kami berjalan namun dia sepertinya masih asik dengan dunianya sendiri.

“Nadhifa, apa kau juga mau?” tanyaku padanya yang sedang berjalan tanpa bicara.

“Tidak Pak, aku sudah sarapan sebelumnya,” jawabnya singkat.

“Baiklah kalau begitu.”

Akhirnya selama perjalanan menuju sekolah kami mengobrol sambil memakan makanan yang tadi dititipkan kepala desa kepada Ratna. Kami banyak mengobrol hingga tanpa terasa sudah sampai di wilayah sekolah yang ada di desa ini. Dari yang aku dengar dari mereka, ini adalah satu-satunya sekolah di desa ini. Dan entah kenapa, sejak semalam Reva terus berkata bahwa aku akan terkejut bila melihat kelas mereka nanti.

Setelah sampai, kami berpisah. Aku segera menuju ruangan para guru untuk bertemu dengan kepala sekolah dan mereka tentu saja pergi ke kelas mereka masing-masing.

                                                       ***


 
http://pengayuhkereta.files.wordpress.com/
Suasana pagi ini terlihat begitu mendung sejak aku menginjakan kaki ke sekolah ini. Dari balik jendela aku bisa merasakan perubahan angin yang bertiup pagi ini hingga menambah rasa dingin pada tubuhku. Saat ini aku sedang berjalan menuju ruang kelas yang akan aku ajarkan hari ini.

Aku sudah bertemu dengan kepala sekolah, dan untuk alasan tertentu dia langsung menyuruhku untuk mengajar pelajaran pertama hari ini. Dia mengatakan agar aku lebih cepat mengakrabkan diri dengan murid di sekolah ini yang jumlahnya tidak terlalu banyak.

Aku sudah sampai di depan kelasku, kulihat keadannya tak begitu baik dan entah kenapa membuatku sedikit gugup. Dari dalam kelas itu, aku mendengar suara dari beberapa orang yang sepertinya sudah aku kenal.

Sreekk...

Aku membuka pintu untuk memastikannya dan seperti kata Reva sebelumnya kelas ini akan mengejutkanku. Di dalam kelas aku melihat kelima anak yang berangkat bersamaku tadi pagi, Reva, Fajar, Nahifa, Ratna dan Icha.

Tunggu dulu!

Bukankah seharusnya kelas mereka berbeda, setahuku Fajar dan Nadhifa berusia lebih tua dari yang lainnya. Ratna adalah yang paling kecil jadi seharusnya dia anak SD tak seharusnya dia satu kelas dengan Reva ataupun yang lainnya.

“Pak guru, kenapa diam? Apa Pak guru terkejut?” teriak Reva yang langsung menyadarkanku

“Be... benar. Hei, bukankah kalian itu berbeda usia lalu kenapa bisa berada di satu kelas yang sama?” tanyaku kebingungan.

“Ini semua karena sekolah ini satu-satunya pak dan tak ada lagi kelas lain. Lagipula jumlah murid di sini hanya sedikit, Pak,” jawab Fajar menjelaskan kebingunganku.

“Oh begitu.”

Aku terjebak sekarang, aku berpikir sekarang bagaimana aku akan mengajar di kelas ini. Tapi setelah kupikirkan lagi, mata pelajaranku tidak seperti Matematika atau lainnya yang terikat dengan tingkat kelas mereka.

“Jika seperti itu keadaannya, maka aku tak bisa mengeluh,” ucapku sambil masuk ke dalam kelas.

Seperti biasa, untuk awalan aku mengenalkan diriku pada murid-murid lain yang ada di kelas. Aku menuliskan namaku dengan kapur yang ada pada papan tulis, karena hanya ada 10 murid perkenalan ini jadi sangat cepat.

“Oh iya, agar lebih akrab kalian panggil saja aku Kak Ady. Agak aneh saat aku dipanggil Pak guru karena belum terbiasa,” ucapku saat mengenalkan diri.

Aku mengajar bahasa jepang di kelas ini. Agak aneh memang jika mengajar bahasa asing pada murid di desa seperti ini tapi ini semua karena aku ingin sedikit mengenalkan budaya pada negara asalku untuk mereka.

Waktu terlewati cukup lama, mungkin satu jam atau dua jam tanpa terasa. Pelajaran awal aku hanya mengajarkan kata-kata mudah yang cukup bisa untuk mereka katakan. Terlihat antusias yang tinggi dari mereka semua saat aku mengajar, sesekali aku sedikit bercanda dengan mereka atau yang lainnya.

Setelah cukup lama kepalaku tiba-tiba terasa sangat sakit, sepertinya berasal luka yang kuderita malam sebelumnya. Aku memegang kepala belakangku dengan tangan kananku, rasanya sangat sakit.

“Kak Ady, apa yang terjadi?” tanya Reva saat melihatku.

“Kepala Kakak rasanya sakit.”

“Mungkinkah dari luka yang Kakak miliki?” tanya Reva lagi.

“Sepertinya, Aku akan pergi ke ruang kesehatan, kalian belajarlah sendiri di sini!”

Aku langsung pergi keluar dari kelas, menuju ruang kesehatan yang seharusnya ada di sekolah ini. Sekolah ini hanya ada satu lantai jadi mudah bagiku untuk mencari ruangan kesehatan.
 
beco.com

Aku berdiri di depan sebuah ruangan yang tak jauh berbeda dari ruang kelas. Dari ruangan itu tercium bau bunga dan sepertinya ada bau seperti obat juga. Aku membuka ruangan itu sambil memegang kepalalu dan aku lihat ada seseorang di sana. Seorang wanita yang sedang duduk di meka ruangan yang dekat dengan kasur putih mengarah ke jendela.

“Eh, ada apa denganmu?”

“Kepalaku sakit, bisa kau bantu obati aku,”

“Baiklah, masuk dan berbaringlah di atas kasur!”

Aku berbaring, dan wanita itu segera memeriksaku. Dia membuka perban pada kepalaku dan menggantinya dengan yang baru. Setelah cukup lama, akhirnya dia selesai juga mengobatiku.

“Hei, kau... apa kau guru baru di sini?”

“Ya, aku Ady Eky Kazami. Baru saja mengajar magang hari ini.”

“Aku Aurora Valentika, aku juga magang di sini sejak tahun lalu. Apa yang terjadi padamu, apa kau dirampok sampai kepalamu terluka?”

“Tidak-tidak, ini akibat kecelakaan di sungai. Kau sudah lama di sini, pasti sudah akrab dengan mereka.”

“Ya, tidak begitu juga. Dulunya aku memang sangat akrab dengan murid-murid di sini tapi semua sedikit berubah sejak ada murid yang meninggal dari sekolah ini.”

Aku mendengar sesuatu yang sedikit mengejutkanku, murid yang meninggalnya? Entah kenapa hal itu mengingatkanku pada kejadian saat di sungai ketika aku pertama datang ke desa ini. Saat itu aku melihat seorang gadis yang jatuh dari jembatan dan hilang saat aku hendak mencarinya. Apa mungkin ada sebuah hubungan dari itu, tapi aku tak bisa mempercayai itu.

“Meninggal? Bisa kau ceritakan maksud perkataanmu!”


Memori III end.


Memori sebelumnya                                                                                                       Memori selanjutnya
Memori Two                                                                               Memori Four

 ========================================================================

Share cerita yang ketiga, cerita sebelumnya bisa kalian baca di link yang ada di atas.
Niatnya ini mau saya post tiap malam jum'at, tapi malah kelewatan mulu dan akhirnya saya post di malam minggu. Ya udah, dari pada nggak sama saya posting lebih baik ini jadi menemani malam minggu kalian.

Terimakasih sudah membaca.

18 comments:

  1. Wow bagus nih ceritanya, jadi kak ady dari jepang magang di sebuah desa terpencil. Aku nggak ngeh kalau ceritanya bakal berkembang sampai segini.

    Kayaknya nanti bakal ada rasa antara aurora dan ady, nebaknya sih gitu kan biasanya kan ngepos ridle story.

    Jadi penasaran kok ady bisa magang di desa, dan kenapa kok bisa kecelakaan. Baca yang seblumnya ah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Riddle nanti pas senin saya posting.

      Kecelakaannya itu terjadi pas memori 1, baca aja lagi tuh

      Delete
  2. mantap. ceritanya penuh misteri bro, seru.
    dihubungin lagi ke episode 1 tentang murid yang jatuh terus ngilang di bebatian sungai.
    keren sih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih

      ini masih ada lagi misteriny gan ,,, tunggu aja ya memori lainnya

      Delete
  3. Hmm.. Lumayan juga nih ceritanya.

    Enak kali ya, punya murid kayak gitu. Nyamperin gurunya. Gue baru tau loh kalo ada itu, eh, ini kan cerita ya, lupa, hehe. :D

    Serem juga tuh, ada yang jatuh ke sungai.

    Ditunggu lah ceritanya! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya gan,

      makanya jangan sering-sering main ke sungai gan.. biar nggak jatuh

      Delete
  4. Wah, suasana khas pedesaan banget, muridnya pada ramah-ramah sama guru bahkan ampe nyamperin ke kelas. Tapi, cerita-cerita begini jadi ngingetin gue sama anime-anime thriller dah, pasti muridnya awalnya baik sama guru, tapi entah kenapa malah kadang yang paling baik itu mengerikan dan yang pendiam nanti jadi penyelamat. Ah, sok tau gue, ditunggu kelanjutannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu bisa benar tapi juga bisa salah.
      eheheh...

      ya liat aja nanti tuh sampe memori yang lainnya juga.
      selamat menunggu ya.

      Delete
  5. asik banegt ceritanya, sampe-sampe gue nggak nyangka baca paragraf terakhir, nggak kerasa karena saking kerennya.

    kelima anak-anak tersebut lucu-lucu yaa mereka penuh dengan tawa dan unik sesuai dengan sifat mereka masing-masing. tapi kasihan juga sih mereka harus berkumpul dengan satu sekolahan karena hanya ada satu sekolah saja disana.

    oh iyaa endingnya bikin penasaran banget dan penuh misteri. keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih gan.

      wah... ringan ya narasinya.
      kebetulan banget ini bagian yang kutulis, ada kekurangan lainnya nggak gan?
      butuh kritik dan saran nih.

      Delete
  6. Anjir, lagi seru-serunya baca dan penasaran apa kelanjutannya, eh tau-tau postingannya udah abis aja. Keren ceritanya. Gue jadi terbawa suasana bacanya. Cepetan diupdate lah, gue penasaran :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. minggu depan updatenya.

      ini program seminggu sekali update.

      Delete
  7. Awalnya sempat bertanta-tanya nih bang "mana letak seremnya, biasanya bang ara kan bikin yang serem", eh ternyata akhirannya ada serem-seremnya. Dan itu juga buat penasaran. Kerenlah pokoknya.

    Kok aku ngebayanginya kayak kelasnya Non Non Biyori ya. Kelasnya dicampur gitu, Apa terisnpirasi dari itu? Dan murid yang meninggal juga, mengingatkanku pada Another. Jadi aku ngelihatnya kayak nonton Non Non Biyori dengan suasana Another.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, tahu banget nih. emang referensinya dari Non Non Biyori kok. Si pimpinan circle yang ngasih ide gitu.

      Kalau another itu mah serem banget apalagi yang animenya. Tapi ini nggak seserem itu kok.

      Delete
  8. Duhh jago banget bikin cerpen . . lebih cakep kalo dijadiin manga nih . . Twistnya selalu dapet kok . . Lanjutkan broo . .

    Baca ini gue jadi pengen cepet2 lulus dan jadi guru . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin. semoga cepet lulus.

      manga?
      emm... gimana ya

      Delete
  9. Wah serunya, walau di desa tapi sudah ada pelajaran bahasa Jepang. Di kota bahkan jarang ada pelajaran bahasa Jepang.

    Misterinya sedikit demi sedikit mulai terungkap. Gadis yang jatuh di sungai itu ada hubungannya dengan anak yang meninggal di sekolah yah? Wah jadi tambah penasaran...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya

      dia datang buat ngajar ke desa atas permintaan kakeknya tuh

      Delete

Pengunjung yang baik selalu berkomentar yang baik dan relevan.
Terimakasih.

Back to top