Saturday, June 20, 2015

// // 32 komentar

#Reminisce - Memori Five: Humming

Bagikan:

 Ini adalah memori 5  tinggal 3 memori lagi sebelum cerita ini berakhir.
Silahkan menikmati.



~Story Index : "Click Here"
 Writen by Cacan
=============================================

~Chapter V


------------------------------
        "Humming"
------------------------------




Sejak kecil aku tidak percaya dengan yang namanya mitos, legenda ataupun cerita hantu. Bagiku itu semua hanyalah kebohongan yang tercipta dari imajinasi manusia belaka. Kebohongan yang telah menjadi tradisi sehingga dianggap fakta oleh semua orang.

Hal palsu yang dianggap asli.

Mempercayai hal ini sama saja mengiyakan semua kebohongan tersebut. Dan kemudian kau akan hidup dalam kepalsuan yang kau ciptakan sendiri.

"Aku rasa itu memang sudah menjadi sifat alami manusia, Pak Guru..."

"Apa maksudmu??" tanyaku pada gadis berambut panjang yang sedang duduk di tepi sungai berbatu itu.

"Setiap manusia selalu berbohong. Menutupi jati diri mereka yang sebenernya dengan kebohongan tersebut. Kebohongan itu menjadi topeng bagi mereka."

Kata-kata itu ada benarnya. Tapi, bagaimana anak kelas 2 SMA sepertinya bisa berpikiran seperti itu. Dia seperti telah melihat hitamnya dunia di gelapnya malam.

"Hmmm...begitu ya..." aku melanjutkan percakapan. "...menurutmu kenapa mereka melakukan hal seperti itu. Bukankah berbohong itu tidak baik?"

Dari hentakan di pundaknya, aku tahu dia seperti sedang menahan tawanya.

"Tentu saja untuk melindungi diri mereka."

Dia mengatakannya bagaikan hal itu adalah fakta yang diketahui semua orang.

"Ular yang mengeluarkan bisa, harimau yang menggunakan taringnya ataupun sigung yang mengeluarkan bau menyengat. Itu semua mereka lakukan untuk melindungi diri mereka."

Muridku itu kemudian mendongakkan kepalanya sehingga aku bisa melihat sisi wajahnya yang terbendar sinar bulan itu.

"Lalu apa yang digunakan manusia untuk melindungi diri mereka?" lanjutnya lagi.

"....."

"....."

"-tentu saja kebohongan."

"Tidakkah itu berlebihan, Nadhifa?"

"Tidak, itu memang sudah menjadi sifat alami manusia. Saking alaminya kadang mereka tidak sadar jika sedang berbohong."

"Eh?" aku memasang wajah bingung.

"Seperti yang anda lakukan, Pak Guru."

"Memangnya kebohongan apa yang sedang aku lakukan? Seingatku, aku tidak sedang berbohong padamu." tanyaku sambil memiringkan kepala.

"Apa anda tidak sadar jika anda sedang membohongi diri anda sendiri?"

"....."

Perkataan Nadhifa semakin membuatku bingung.

"Dari wajah bingung anda itu, sepertinya anda masih kurang memahami Bahasa Indonesia."

"Aku cukup memahaminya, kakekku mengajarkannya padaku sewaktu kecil."

"Ah....kalau begitu, berarti daya tangkap anda yang bermasalah."

"Aku akan menuntutmu karena melakukan pelecehan verbal."

"Aku juga akan menuntut anda atas tuduhan pedhopilia..." balas Nadhifa dengan tenangnya.

"Eh!!?? Kenapa begitu, aku kan tidak melakukan apa-apa padamu."

Nadhifa tidak merespon kata-kataku, pandangannya kembali ia arahkan pada sungai berbatu itu. Entah kenapa sosoknya yang duduk di pinggir sungai dan bermandikan cahaya bulan itu terlihat begitu melankolis bagiku.

Aku terus menatap punggung Nadhifa yang mengenakan baju hangat berwarna merah itu, sungguh kontras dengan gelapnya malam di antara hutan pinus ini.

"Kau masih belum menjelaskan maksud dari kata-katamu sebelumnya." aku kembali membuka pembicaraan dengan salah satu muridku itu.

"Tentang daya tangkap anda yang bermasalah?"

"Bukan!!!" anak ini benar-benar pintar bermain kata-kata.

Sedikit mengingatkanku pada Aurora.

"Maksudku tentang aku yang membohongi diriku sendiri."

"Ah....tentang itu."

Nadhifa berdiri dan berbalik badan kearahku. Kulihat kakinya mulai melangkah mendekatiku.

"Pak Guru... Bisa aku tanya sesuatu?" tanyanya setelah berada dihadapanku. "-bagaimana kita bisa bertemu disini malam ini?"

Aku mengangkat satu alisku mendengar pertanyaannya. Apa dia lupa kenapa kami bisa mengobrol seperti ini?

"Aku melihat sosok putih aneh saat aku sedang berjalan. Setelah kuikuti, sosok itu membawaku ke tempat ini, dan aku menemukanmu sedang duduk di tepi sungai itu."

"Kenapa anda mengikuti sosok putih itu?"

"Bukankah tadi sudah kubilang jika aku merasa aneh akan sosok itu, dan itu membuatku penasaran."

"Itu yang kumaksud dengan anda membohongi diri sendiri."

"Eh?"

"Bukankah tadi anda bilang jika anda tidak percaya akan hantu atau semacamnya? Lalu kenapa anda mengikuti sosok itu?"

"Sudah kubilang karena aku penasaran."

"Anda penasaran karena di dalam diri anda, anda menganggap bahwa sosok itu adalah hantu. Bukan begitu, Pak Guru?" Nadhifa tersenyum menyeringai.

"Ten...tu saja bukan..." aku membantahnya.

Memang aku merasa sedikit takut saat mengikuti sosok itu. Tapi itu bukan berarti aku menganggap jika sosok itu adalah hantu.

"Lihat, benarkan apa yang kubilang?" kata Nadhifa.

"Eh?"

"Manusia melindungi diri mereka dengan kebohongan. Baru saja anda kembali berbohong, saat membantah perkataanku anda berbohong untuk melindungi hal yang anda percayai. Begitu juga dengan sebelumnya, anda berbohong untuk melindungi diri anda dari rasa takut."

"...."

"...."

Keadaan menjadi hening saat Nadhifa menyelesaikan penjelasannya. Suara air sungai yang membentur batu kali terdengar semakin jelas, begitu pula dengan similir angin malam yang bergesekan dengan dahan pohon pinus dan rerumputan.

Aku mulai memikirkan apa yang dikatakan Nadhifa. Walaupun berat, tapi harus kuakui jika apa yang dikatakannya itu ada benarnya.

"Sepertinya anda sudah mulai bisa menerima penjelasanku tadi, Pak Guru."

Kata Nadhifa memecahkan keheningan sambil berjalan melewatiku.

"Mau kemana kau?" tanyaku padanya.

"Pulang..." Nadhifa membelakangiku.

"Tunggu dulu!" aku menghentikannya.

"Ada apa sensei?" Nadhifa membalikkan badannya. "Kau benar-benar akan dikira pedhopile jika mengajak anak dibawah umur keluar semalam ini."

"Ada yang ingin kutanyakan padamu..."

"Maaf Pak Guru, tapi aku tak bisa menerima ajakanmu untuk bermalam."

"Kau benar-benar ingin memenjarakanku ya?" Sahutku sedikit kesal. "-bukan hal itu yang ingin kutanyakan padamu."

Nadhifa hanya diam menanggapi kata-kataku itu. Diamnya itu kuartikan sebagai izin bagiku untuk melanjutkan perranyaaku.

"Apa kau adalah sosok yang tadi kuikuti?"

"Mana kutahu, bukankah kau yang mengikutinya. Belakang kepalaku ini tak memiliki mata Pak Guru..." Jawab Nadhifa sambil memiringkan kepalanya. "Lagipula, kenapa kau bisa beranggapan jika itu aku?"

Aku menatap Nadhifa dengan serius.

"Senandung yang kudengar darimu di tepi sungai itu sama dengan yang kudengar dari sosok yang kuikuti."

"Hmmm...begitu ya..." Nadhifa tersenyum penuh arti padaku.

"....."

"....."

Hanya hembusan angin malam yang dingin melanjutkan percakapan kami. Kebisuan yang meradang ini membuat anganku kembali melayang pada alasan kenapa aku bisa berada disini.

Aku yang tadinya sedang berjalan di jalan setapak yang ada di dekat kontrakanku tiba-tiba melihat sesosok bayangan putih yang sedang berjalan masuk melintasi hutan pinus yang rindang itu.

Awalnya aku mengira aku sedang berhalusinasi dikarenakan banyaknya hal yang sedang memenuhi otakku. Sebut saja gadis yang menyambutku dengan meloncat dari jembatan saat pertama aku tiba disini.

Namun senandung yang kudengar dari sosok itu meyakinkanku jika aku sedang tidak berkhayal.

Rasa penasaran menggerakkan langkahku untuk mengikuti sosok tersebut. Pohon pinus yang rindang itu seakan tak menghalangi sosok tersebut untuk berjalan.

Aku sedikit kesulitan mengikutinya.

Ditengah usahaku itu, mataku kembali mengamati sosok tersebut. Rambut hitam yang ditiup angin malam menjelaskan bahwa yang sedang kuikuti adalah perempuan. Hal ini semakin didukung oleh postur tubuhnya yang kecil dengan kaki putih jenjang yang keluar dari sundress yang ia kenakan.

"Hei, tunggu!!" Teriakku padanya.

Namun gadis yang kuikuti itu tak merespon dan masih berlari kecil sambil terus bersenandung.
Entah kenapa senandung yang ia nyanyikan terasa tak asing bagiku. Aku seperti pernah mendengar itu sebelumnya.

Tapi dimana?

Aku sama sekali tak bisa mengingatnya.

Dan itu semakin membuatku penasaran. Rasa penasaran itu memberiku semangat untuk terus mengejar gadis putih itu.

Sesaat pandanganku terhalang oleh semak dan tumbuhan menjalar yang menutupi wajahku. Takut aku kehilangan sosok itu, aku pun segera memepercepat langkahku.

Langkah kakiku kuarahkan pada sumber suara senandung yang kudengar dari balik semak itu.

Akhirnya aku berhasil menembus tumbuhan hijau itu. Ternyata dibalik semak dan tumbuhan menjalar itu adalah sungai berbatu dimana aku terpeleset beberapa hari yang lalu.


putrapenanggunan.blogspot.com

Dan disanalah aku menemukan Nadhifa yang sedang duduk di tepi sungai sambil bersenandung nada yang sama.

"Apa tidak ada yang ingin anda tanyakan lagi, Pak Guru?" Suara Nadhifa membuyarkan lamunanku. "Kalau begitu aku akan pulang sekarang, Pak Guru..."

Secara refleks aku langsung menaikkan suaraku.

"Tunggu dulu, kau masih belum memberiku jawaban yang pasti atas hal yang kutanyakan tadi!"

"Bukankah tadi aku sudah mengatakan jika bagian belakang kepalaku ini tidak memiliki mata, jadi mana aku tahu apa anda mengikutiku atau tidak. Yang aku tahu saat aku menoleh ke belakang anda sudah berdiri tepat di belakangku."

Nadhifa menjelaskan padaku tanpa sedikit pun membalik badannya ke arahku.

Dari penjelasaannya belum dapat kupastikan jika yang kuiikuti itu benar dirinya atau bukan.
"...."

Tunggu ada satu hal lagi yang belum kutanyakan. Semoga ini bisa memberiku sedikit kepastian akan siapa yang sebenarnya tadi kuiikuti.

"Senandung itu apa hanya kau yang mengetahuinya?"

"Kenapa kau begitu penasaran , Pak Guru?"

"Kau dan sosok yang kuiikuti sama-sama melantunkan senandung itu, lagi pula aku merasa seperti pernah mendengar nada itu sebelumnya..."

“…..”

“….”

"Pak Guru, apa kau pernah kesini sebelumnya?"

"Maksudmu ke desa ini." Nadhifa mengangguk. "-tidak, belum pernah. Ini pertama kalinya aku kesini..."

"...."

"...."

Nadhifa tiba-tiba terdiam dan keadaan pun menjadi sunyi.

"Kenapa?" Diamnya membuatku penasaran.

"Itu aneh sekali, seharusnya hanya orang-orang yang ada di desa ini yang mengetahuinya."

"Apa maksudmu?" Tanyaku semakin penasaran.

Akhirnya Nadhifa membalik badannya ke arahku. Matanya menatap begitu tajam padaku. Dan kulihat perlahan bibir mungil itu bergerak.

"Senandung itu adalah nyanyian tradisional yang hanya diajarkan pada anak-anak yang terlahir di desa ini. Bagimu orang asing yang baru pertama kali datang kemari merasa pernah mendengarnya adalah sesuatu yang aneh..."

"Aneh?? Ap-"

"Maaf Pak Guru, aku harus pulang sekarang. Aku tidak mau kembali terlalu larut." Nadhifa memotong kata-kataku.

Walaupun aku masih penasaran, tapi kusadari bahwa yang dikatakan muridku itu ada benarnya. Malam sudah semakin pekat, walau tidak membawa jam kurasa aku bisa menebak jika sekarang mendekati tengah malam.

Dan sebagai guru aku tidak bisa membiarkan muridku berada di luar lebih lama lagi. Itu aka sangat berbahaya bagi gadis seusianya.

"Apa kau mau aku temani pulang?" Tanyaku merasa bertanggung jawab.

"Terima kasih Pak Guru, tapi aku rasa itu tidak perlu. Aku lebih mengenal jalanan desa ini dibanding anda." Nadhifa tersenyu menggoda kearahku. "-aku tidak guru kami tiba-tiba menghilang di tengah hutan pinus ini..."

"Oi...oi...oi..."

"Sampai jumpa di sekolah, Pak Guru."

"Sampai jumpa besok, Nadhifa."

Muridku itu pun mulai melangkahkan kakinya diantara pohon pinus yang ada di hadapannya.

"Satu hal lagi, Pak Guru..." dia berhenti tiba-tiba. "Lain kali kau harus lebih berhati-hati."

"Eh?"

 Belum sempat aku meminta penjelasan. Nadhifa sudah terlanjur menghilang diantara gelapnya pohon pinus.
Sesaat aku hanya bisa menatap sosoknya yang telah menghilang.

"....."

Kurasa aku juga harus segera pulang.


[****]


"Ughhhh..." aku memegangi kepalaku.

Saat ini kelas yang kuajar baru saja menyelesaikan materi terakhirnya untuk hari ini. Terlihat kesepuluh muridku yang berbeda tingkat itu mulai merapihkan barang-barang mereka yang berserakan di meja.

"Apa anda baik-baik saja, Pak Guru?" Tanya Reva, muridku yang seumuran anak SMP itu.

"Kepalaku hanya sedikit pusing saja..."

"Apa luka di kepala anda kembali terbuka?" Tanyanya lagi.

"Kurasa lukaku itu sudah cukup kering..."

"Anda yakin, apa anda tidak sebaiknya memeriksakannya pada Bu Aurora?"

"Kurasa itu tidak perlu..."

"Jangan begitu, Pak Guru." Suara lain bergabung dengan pembicaraan kami. Suara imut yang datang dari gadis kecil bernama Ratna. "-kalau luka itu menjadi semakin parah bisa-bisa kepala anda di amputasi loh..."

"Ratna.....manusia akan mati jika kehilangan kepalanya."

"Eh???" Ratna memberiku tatapan polosnya.

"Ratna kau lucu sekali.." Reva memeluk temannya itu dengan begitu erat.

"Reva lepaskan aku, aku tak bisa bernafas." Ratna sedikit memberontak.

"Eh, maaf maaf..."

Aku hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah kedua muridku yang polos itu.

"Tapi Pak Guru, aku tetap berpikir jika anda harus pergi menemui Bu Aurora."

Aku hanya menghela nafas mendengar permintaanya itu.

"Baiklah, baiklah...aku akan menemuinya..."

"Nah...begitu dong, Pak Guru..." Reva tersenyum lebar.

"Kalau begitu aku pergi dulu..."
"Baik, Pak Guru."

"Semoga kepala anda tidak diamputasi, Pak Guru." Sahut Ratna saat aku mulai melangkah keluar kelas.

"Iya...iya..." lagi-lagi aku hanya tersenyum akan kepolosan muridku itu.

Sekarang aku berada si lorong yang ada di depan kelas yang kuajar. Lantai kayu itu, walaupun sudah tua masih terlihat sangat terawat. Tidak satu pun kutemukan lubang di baik di lantai atau disisi lain bagunan ini.

Bangunan ini hanya terdiri dari satu lantai dan terdapat 4 ruangan di dalamnya. Kelas yang kugunakan untuk mengajar berada di sisi timur dari bangunan ini. sedangkan tujuanku, ruangan kesehatan dimana Aurora berada, ada disisi lain gedung sekolah.

Langkah kakiku pun akhirnya terhenti di depan ruangan yang menjadi tujuanku, secara perlahan kugerakkan tanganku untuk membuka pintu kayu tersebut. Baru saja tanganku menyentuh besi gagang pintu itu, telingaku menangkap nada yang tidak asing bagiku.

Senandung yang semalam kudengar.

Secara refleks kepalaku berputar ke arah sumber datangnya suara itu. Disana, sedang bergandengan tangan dengan, Reva dan Ratna sedang bejalan di lorong yang tadi kulalui. Daru mulut mereka terdengar senandung yang mejadi sumber rasa penasaranku sejak semalam.

Ingin aku menghampiri mereka berdua dan kembali menanyakan tentang senandung yang entah kenapa membuatku sangat penasaran itu. Penjelsan dari Nadhifa semalam belum melegahkan dahaga penasaranku.

Namun di lain sisi, kepalaku terasa semakin sakit. Padanganku juga semakin kabur.

Aku tidak mau tiba-tiba pingsan di depan mereka.

Apa yang harus aku lakukan??


============================================


Sebelumnya                                                                   Selanjutnya
Memori Four                                                       Memori Six



Terimakasih sudah membaca.
Ditunggu komentar, kritik dan sarannya.

32 comments:

  1. wah lengkap sekali penjelasannya nih mbak, mantab nih sebuah kisah hidup yang unik dan menjadi inspirasi tersendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. em, baca nggak nih gan?
      saya kok penasaran

      Delete
  2. Yahh..yg lagi sama Aurora kmren gak diceritain lg ya? wkwk.
    Td sempet bingung, kirain aku kelewatan bacanya, tp bener kok, trnyata cuma diloncat ya crtanya? Hehee

    Wahh.. Mencurigakan Nadhifa... Jgn2 emg dia cewe yg di jembatan? Ah tapikan yg dijembatan udh loncat gitu.. Pasti udh mati lah ya?

    Si pak guru pernah ksini kali dlu.. tapi dia gak inget.. trs si cewe di jembatan itu cewenya pak guru yg udh mati..
    Nebak nebak doang sih wkwk #DikiraRiddleKaliNebakNebak-__-

    Mdah2an endingnya gak seperti tebakan ku ya, biar seru. Haha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang pernah ke sana si kakeknya pak guru
      kakeknya yang sering nyanyi itu pas dia pulang ke jepang.
      nah makanya si Ady tahu sama lagunya

      Delete
  3. ceritanya seru juga tuh :D di tunggu kisah selanjutnya :)

    ReplyDelete
  4. kenapa malah bahas mistis lagi. aahh~
    aku suka bagian, "lalu apa yang digunakan manusia untuk melindungi diri sendiri."
    jawabnya, "kebohongan."
    pinter banget sig ambil snapshoot. ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe

      emang sengaja nyari kata yang keren

      Delete
  5. "Ular yang mengeluarkan bisa, harimau yang menggunakan taringnya, sigung yang mengeluarkan bau menyengat, ATAU manusia yg hobi cari alesan untuk ga move on...Itu semua mereka lakukan untuk melindungi diri mereka."

    Hahahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. ckckc
      gagal move on gan?
      ini kayak ente lagi crhat sama ane

      Delete
  6. Hewan melindungi dirinya dengan kekuatan, manusia melindungi dirinya dengan kebohongan.

    Hmmm, ada benarnya juga

    ReplyDelete
  7. kereen nihh, unik setiap kalimatnnya bikin penasarann, jadi pen baca di sekitarrnyaa, muter muter di blog ini ahh, izin ya

    ReplyDelete
  8. cerpennya keren, dan yang gue suka nggak membingungkan. karena gue itu malas banget baca cerita yang isinya membingungkan, apalagi cerpen di blog.

    trus untuk cerita selanjutnya gue tebak pasti nggak akan pingsan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nggak pingsan kok

      berterimakasihlah pada temen saya yang nulis
      kemampuan dia di atas saya

      Delete
  9. Kenapa si Cacan ini gak bikin buku aja? Udah bisa menulis panjang2 tuh, udah bisa nyusun plot juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya gk tahu sih kenapa belum nulis buku.
      mungkin sibuk dianya

      Delete
  10. Cerpennya panjang sampe buat kepalaku sakit bacanya.
    tapi walaupun panjang ini cerpen yang bagus. mudah dipahamin. akuu jadi pensaran
    jangan-jangan hantu yang lagi diikuti sensei itu beneran si dia (nadhifa)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin aja

      nantikan aja ya sampe tamat ceritanya

      Delete
  11. Waaah ide ceritanya menarik. aku bacanya sambil nebak nebak. kok bisa muridnya ngomong selancang itu ke guru. Dikirain di sekolah, ternyata bukan -____-

    oh iya, showingnya kurang tuh, jadi kadang bikin bingung hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh masih kurang dalam menunjukkan setting ya mas

      Delete
  12. wah masih bersambung ya, saya menikmati alur ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbag

      besok baru saya update yang keenam

      Delete
  13. Wah muncul misteri baru, belum kelar yang satu sudah muncul misteri yang lain....
    Kayaknya cerita ini sengaja buat orang penasaran agar si pembaca lanjut terus bacanya, he..he... Tapi ceritanya bagus...

    Nadhifa memang terlihat misterius, tengah malam berkeliaran sendiri, duduk sendiri di tepi sungai. Dan perkataan yang keluar dari mulut Nadhifa juga..., hmmn..., mencurigakan...

    ReplyDelete
  14. Jadi keingat saat dulu suka bikin cerpen dengan gaya aku. Selain lebih simpel, juga mudah untuk menuliskan kisahnya. Lanjutkan kisah selanjunya. Moga bisa jadi buku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti bisa mbak, saya tahu ada beberapa penulis yang dia buat buku dari blog. TInggal kayak gini mbak rutinkan aja. Yah, walaupun saya hingga hari ini masih punya buku antologi yang puisi. Buku yang lain, masih belum. Moga-moga segera nyusul :)

      Delete
    2. amin
      ini juga saya ntar lagi ada antologi kok mas

      baca ya nantinya

      Delete
    3. Siap dah, kalau ada gratisan hihi, bisa juga nanti di model kayak give away. Jadi nanti salah satu hadiahnya adalah antologinya.

      Delete
    4. antologinya udah terbit, kalau giveaway...hem...entahlah... harus punya bukunya dulu

      Delete

Pengunjung yang baik selalu berkomentar yang baik dan relevan.
Terimakasih.

Back to top